Misuh Artinya

Misuh Artinya

miturut pacelathon ing dhuwur kenang apa gandung misuh misuh karo warsana​

Daftar Isi

1. miturut pacelathon ing dhuwur kenang apa gandung misuh misuh karo warsana​


Jawaban:

paceathon nya mana??

Penjelasan:

bisa tolong di tls di komen


2. cara hyena mempertahankan wilayahnya dari misuh


hyena mempertahankan wilayanya dari musuh dengan cara berkelompok

3. tembung entar misuh lan nyatur lian


yaiku tembung kang tegesé ora kaya makna saluguné (kata kiasan).Utawa tembung kang ora kena ditegesi sawantahe baé sinebut uga ing basa Indonesia tembang silihan (kiasan).

4. Tutik "Dung, kowe tiba neng ngarep kantin ya? Kesrimpettali ya?"Indri "lya, kowe kok ngerti Tik?"Tutik"Aku mau ngerti, Warsana sing masangi tali ing kono. Dadi kuwi mau pokaleWarsana."Gandung "Oh Badi Warsana ta sing jalari aku tiba. Awas ya War. Yen mengko ketemusida tek jotosi lenan!"Indri : "Ora apik, Dung. Becike sikilmu diobati dhisik ana UKS. Masalah dirampungkemengko bae. Rak ya mathuk ta?"(Gandung mesem, bocah lelu mau banjur menyang UKS)Gaweya pacelathon ing ndhuwur dadi gancaran!36. Miturut pacelathon ing ndhuwur, kenang apa Gandung misuh-misuh karo Warsana?​


Jawaban:

Gandung misuh misuh amarga wes di gawe tibo marang Warsana

Penjelasan:

Maaf kalo salah

Semoga membantu^^

Jawaban:

Amarga, Warsana sing jalari Gadung tiba.

Penjelasan:

Maaf Kalo Salah(◔‿◔)


5. Sinopsiskan cerpen dibawah ini. Jangan terlalu banyak ya. KANG DASRIP (Emha Ainun Nadjib) Kang Dasrip kecewa dan agak bingung. Anaknya, Daroji yang belum sembuh karena dikhitan kemarin, kini sudah mulai menagih. Sebelum hajat khitanan ini, ia memang berjanji kepada anaknya akan membelikannya radio merek Philip seperti kepunyaan Wak Haji Kholik. Tapi mana bisa, perhitungannya ternyata meleset. Ia bukannya mendapat laba dari hajat ini, malah rugi. Undangan-undangan itu ternyata banyak yang kurang ajar. Cobalah pikir. Perhitungan Kang Dasrip sebenarnya sudah dibilang matang. Ia keluarkan biaya sedikit mungkin untuk hajatan khitanan anaknya ini. Ia tidak bikin tarup di depan rumahnya karena akan menghabiskan banyak batang bambu dan sesek, melainkan cukup membuka gedeg bagian depan rumahnya. Dengan demikian, beranda dan ruang depan rumahnya menjadi tersambung dan bisa dijadikan tempat upacara khitanan. Ia tidak pakai acara macem-macem. Cukup panggil calak, tukang khitan, dengan bayaran dua ribu upiah. Kemudian tak usah nanggap wayang atau ketoprak, ludruk, lagu-lagu dangdut atau kasidahan, atau apa saja asal ada kasetnya. Semua biayannya cukup tiga ribu rupiah, untuk waktu sehari semalam penuh. Biaya yang tidak bisa dielakkan banyaknya ialah untuk suguhan, makan minum dan jajan-jajan serta rokok. Yang diundang tak usah banyakbanyak. Cukup kerabat-kerabat terdekat, tetapi tertama orang-orang yang dulu pernah mengundangnya berhajat. Kang Dasrip punya catatan berapa banyak ia memberi beras atau uang ketika ia pergi ke kondangan. Ia yakin pasti memperoleh jumlah yang sama bahkan bisa lebih banyak. Tetapi ternyata mereka banyak yang kurang ajar. Yang dulu ia buwuhi Rp 200. Sekarang cuma ngasih Rp 100. Bahkan ada yang lebih parah lagi, datang tanpa membawa apa-apa. Kang Dasrip misuh-misuh. Ia rugi ada kira-kira lima belas ribu. Gagallah ia membelikan radio buat anaknya. Sedang si Daroji sudah merengek-rengek. “Sudahlah, Kang. Tak usah bingung. Kita nunggu sewaan tebu sawah kita saja untuk beli radio itu, “ kata istri Kang Dasrip. “Kau kira berapa sewan untuk sawah kita?” Kang Dasrip malah kelihatan semakin berang. Mereka seenaknya sendiri saja memberi harga sewa kita untuk ditanami tebu. Ngomongnya saja tebu rakyat! Tapi nyatanya malah maksa-maksa kita dan tebunya juga punya pabrik! Punya pemerintah!” Istrinya tidak berani membantah. Tapi Kang Dasrip sendiri toh hanya bisa bingung. “Biarlah aku nanti yang ngomongi Daroji,” kata istrinya lagi. “Ngomongi apa! Dia anak kecil!” “Ya disuruh sabar.” Kang Dasrip tertawa kecut. “Sabar sampai kapan?” “Kita kan bisa usaha.” “Usaha apa!” “Soal sewa tebu itu misalnya. Kau kan bisa minta Pak Lurah untuk menaikkan harga sewanya.” Tertawa Kang Dasrip mengeras. “Kau kira lurah kita itu pahlawan, ya! Dia itu takut sama atasannya. Atasannya itu ada main sama yang ngurus tebu itu. Dan lagi lurah kita pasti juga dapat apa-apa. Dia sudah punya sawah berhektar-hektar, pajak-pajak dari kita tak tahu larinya ke mana, uang pembangunan desa sedikit sekali kita lihat hasilnya, tapi belum pernah dia merasa puas, dia masih merasa kurang kaya ... ! “Jadi bagaimana?” istrinya nampak sedih. “Ya! Bagaimana! Memang bagaimana?” jawab Kang Dasrip. Mereka kemudian tak berkata-kata lagi. Tapi kemudian ternyata Kang Dasrip punya rencana diam-diam. Ia mengambil sisa-sisa surat undangan, kertas cetakan yang dibelinya di toko dan tinggal mengisi nama yang diundang. Di bagian belakangnya yang kosong ia pergunakan untuk menulis surat. Ternyata ditujukan kepada para undangan yang kurang ajar itu. “Saya dulu mbuwuhi saudara Rp 200, kok sekarang Saudara hanya ngasih Rp100, tulisnya ................ Ketika surat itu selesai diantarnya, ributlah orang desa. Ada yag tertawa, ada yang memaki-maki. Yang jelas surat itu dengan cepat menjadi bahan gunjingan. Bahkan ternyata ada juga yang dikirim ke undangan dari desa sebelah. Maka makin keraslah tanggapan orang desa. “Memalukan desa kita!” kecam mereka. Dan akhirnya Kang Dasrip tidak menikmati hasil apa-apa dari tindakan kebingungannya itu, kecuali nama yang memalukan. Bahkan, lebih dari itu, di tengah malam, ia gelisah karena genting rumahnya ada yang melempari berkali-kali. Kang Dasrip naik pitam. Ia keluar rumah dan berlari hendak mengejar pelaku-pelakunya. Tapi tentu saja ia sia-sia. Malam amat pekat dan lingkungan begitu rimbun untuk ditembus. Akhirnya ia masuk kembali dan terengah-engah di kursi. Istrinya ketakutan. Tapi Kang Dasrip berusaha meredakannya. “Mereka itu undangan-undangan yang kurang ajar itu!” katanya. Paginya Kang Dasrip berpamitan kepada Daroji akan ke kota untuk beli radio hingga bersukacitalah anak itu. Tapi siangnya Kang Dasrip datang dengan wajah sendu. “Radionya dicopet di pasar, Nak....!” ujarnya. Daroji menangis.


pertanyaan an nya apa

6. Alasan yg baik untuk pernyataan berikut 1. Mengahargai pendapat teman sekalipun sangat bertentangan dengan pendapat kita 2. Menghindari permisuhan dengan siapapun 3. Berani menyampaikan pendapat untuk kepentingan masyarakat 4. Menerima perbedaan ppendapat


1. Karena kita harus saling menghargai satu sama lain
2. Karena kita merupakan makhluk sosial
3. Karena kita tidak boleh mementingkan kepentingan pribadi
3. Karena kita harus saling menghargai satu sama lain


1. karna semua orang berhak berpendapat
2. kita harus menghindari permusuhan karna kita tidak mungkin bisa hidup tanpa orang lain
3. karna untuk memajukan daerahnya kita harus berani berpendapat agar lebih maju
4. karna kita harus menerima apa yang telah ditentukan dan harus menghargai perbedaan pendapat tersebut.

mohon maaf kalau salah

7. Tampilan Aksesibilitas Bagikan NULIS UKARA (bjw 12) A. Tembung Entar Tembung Entar yaiku tembung loro utawa luwih sing digabung dadi siji lan tegese dadi beda saka asal usule Tuladha : 1 . Badrun iku pancen . . . , tembunge mencla-mencle ora kena digugu (lunyu ilate) 2 . Awas kancamu sing . . . arep teka mrene, barang-barang simpenen sing primpen. (dawa tangane) Isenana nganggo tembung entar sing mathuk ! Wangsulane pilihen ing sisih ngisor ! Kanggo nyukupi kebutuhane, olehe nyambut gawe direwangi . . .Pak Darmo kuwi pancen . . . sabar lan sugih pangapuraPancen bener Karni iku . . . bola-bali diterangake tetep ora mudhengKancamu sing siji iku pancen . . . tenan, senengane misuh lan nyatur liayanIng palayatan prasasat . . .Tekaku mrene iki arep . . .Bagas kuwi omongane . . .Cepet budhalo saiki, mengko . . .Bu Marni . . . , marga putrane sing ragil lara nemen.Yen kowe nyusul aku , . . . bae supaya cepet.


Jawaban:

2 .tuladha

Penjelasan:

maaf kalo salah


8. Bagaimana sikapmu tak kalah menerima tawaran damai dari misuhmu, sementara kamu adalah pihak yg dirugikan? Jelaskan


sikapku menerima tawaran damai tersebut, karena jika terus bermusuhan tidak baik biarkanlan Allah yang membalas perbuatanmya tersebut.
maaf kalo salah

9. sin 45° + cos 90° =Note:Sepurane bang Effendi, nek kula senengane misah misuh​


Jawab:

[tex]\frac{\sqrt{2} }{2}[/tex]

Penjelasan dengan langkah-langkah:

= sin 45° + cos 90°

= [tex]\frac{\sqrt{2} }{2} +0[/tex] (Nilai sin45 dan cos 90 didapatkan dari tabel yg terlampir)

=[tex]\frac{\sqrt{2} }{2}[/tex]

[tex]\sf cos {45}^{0} + cos {90}^{0} = \frac{ \sqrt{2} }{2} [/tex]

________________________________

[tex]\sf cos {45}^{0} + cos {90}^{0}[/tex]

[tex] \sf \frac{ \sqrt{2} }{2} + cos {90}^{0} [/tex]

[tex] \sf \frac{ \sqrt{2} }{2} + 0[/tex]

[tex] \sf = \frac{ \sqrt{2} }{2} [/tex]


10. 7.2.1 a. nilai kehidupan yang baik(positif) dari cerpen kang darsip b. nilai kehidupan yang negatif 7.2.3 nilai kehidupan yang dapat saya teladani dari cerpen kang darsip tolong dibantu besok dikumpulkan...... KANG DASRIP (Emha Ainun Nadjib) Kang Dasrip kecewa dan agak bingung. Anaknya, Daroji yang belum sembuh karena dikhitan kemarin, kini sudah mulai menagih. Sebelum hajat khitanan ini, ia memang berjanji kepada anaknya akan membelikannya radio merek Philip seperti kepunyaan Wak Haji Kholik. Tapi mana bisa, perhitungannya ternyata meleset. Ia bukannya mendapat laba dari hajat ini, malah rugi. Undangan-undangan itu ternyata banyak yang kurang ajar. Cobalah pikir. Perhitungan Kang Dasrip sebenarnya sudah dibilang matang. Ia keluarkan biaya sedikit mungkin untuk hajatan khitanan anaknya ini. Ia tidak bikin tarup di depan rumahnya karena akan menghabiskan banyak batang bambu dan sesek, melainkan cukup membuka gedeg bagian depan rumahnya. Dengan demikian, beranda dan ruang depan rumahnya menjadi tersambung dan bisa dijadikan tempat upacara khitanan. Ia tidak pakai acara macem-macem. Cukup panggil calak, tukang khitan, dengan bayaran dua ribu upiah. Kemudian tak usah nanggap wayang atau ketoprak, ludruk, lagu-lagu dangdut atau kasidahan, atau apa saja asal ada kasetnya. Semua biayannya cukup tiga ribu rupiah, untuk waktu sehari semalam penuh. Biaya yang tidak bisa dielakkan banyaknya ialah untuk suguhan, makan minum dan jajan-jajan serta rokok. Yang diundang tak usah banyakbanyak. Cukup kerabat-kerabat terdekat, tetapi tertama orang-orang yang dulu pernah mengundangnya berhajat. Kang Dasrip punya catatan berapa banyak ia memberi beras atau uang ketika ia pergi ke kondangan. Ia yakin pasti memperoleh jumlah yang sama bahkan bisa lebih banyak. Tetapi ternyata mereka banyak yang kurang ajar. Yang dulu ia buwuhi Rp 200. Sekarang cuma ngasih Rp 100. Bahkan ada yang lebih parah lagi, datang tanpa membawa apa-apa. Kang Dasrip misuh-misuh. Ia rugi ada kira-kira lima belas ribu. Gagallah ia membelikan radio buat anaknya. Sedang si Daroji sudah merengek-rengek. “Sudahlah, Kang. Tak usah bingung. Kita nunggu sewaan tebu sawah kita saja untuk beli radio itu, “ kata istri Kang Dasrip. “Kau kira berapa sewan untuk sawah kita?” Kang Dasrip malah kelihatan semakin berang. Mereka seenaknya sendiri saja memberi harga sewa kita untuk ditanami tebu. Ngomongnya saja tebu rakyat! Tapi nyatanya malah maksa-maksa kita dan tebunya juga punya pabrik! Punya pemerintah!” Istrinya tidak berani membantah. Tapi Kang Dasrip sendiri toh hanya bisa bingung. “Biarlah aku nanti yang ngomongi Daroji,” kata istrinya lagi. “Ngomongi apa! Dia anak kecil!” “Ya disuruh sabar.” Kang Dasrip tertawa kecut. “Sabar sampai kapan?” “Kita kan bisa usaha.” “Usaha apa!” “Soal sewa tebu itu misalnya. Kau kan bisa minta Pak Lurah untuk menaikkan harga sewanya.” Tertawa Kang Dasrip mengeras. “Kau kira lurah kita itu pahlawan, ya! Dia itu takut sama atasannya. Atasannya itu ada main sama yang ngurus tebu itu. Dan lagi lurah kita pasti juga dapat apa-apa. Dia sudah punya sawah berhektar-hektar, pajak-pajak dari kita tak tahu larinya ke mana, uang pembangunan desa sedikit sekali kita lihat hasilnya, tapi belum pernah dia merasa puas, dia masih merasa kurang kaya ... ! “Jadi bagaimana?” istrinya nampak sedih. “Ya! Bagaimana! Memang bagaimana?” jawab Kang Dasrip. Mereka kemudian tak berkata-kata lagi. Tapi kemudian ternyata Kang Dasrip punya rencana diam-diam. Ia mengambil sisa-sisa surat undangan, kertas cetakan yang dibelinya di toko dan tinggal mengisi nama yang diundang. Di bagian belakangnya yang kosong ia pergunakan untuk menulis surat. Ternyata ditujukan kepada para undangan yang kurang ajar itu. “Saya dulu mbuwuhi saudara Rp 200, kok sekarang Saudara hanya ngasih Rp100, tulisnya ................ Ketika surat itu selesai diantarnya, ributlah orang desa. Ada yag tertawa, ada yang memaki-maki. Yang jelas surat itu dengan cepat menjadi bahan gunjingan. Bahkan ternyata ada juga yang dikirim ke undangan dari desa sebelah. Maka makin keraslah tanggapan orang desa. “Memalukan desa kita!” kecam mereka. Dan akhirnya Kang Dasrip tidak menikmati hasil apa-apa dari tindakan kebingungannya itu, kecuali nama yang memalukan. Bahkan, lebih dari itu, di tengah malam, ia gelisah karena genting rumahnya ada yang melempari berkali-kali. Kang Dasrip naik pitam. Ia keluar rumah dan berlari hendak mengejar pelaku-pelakunya. Tapi tentu saja ia sia-sia. Malam amat pekat dan lingkungan begitu rimbun untuk ditembus. Akhirnya ia masuk kembali dan terengah-engah di kursi. Istrinya ketakutan. Tapi Kang Dasrip berusaha meredakannya. “Mereka itu undangan-undangan yang kurang ajar itu!” katanya. Paginya Kang Dasrip berpamitan kepada Daroji akan ke kota untuk beli radio hingga bersukacitalah anak itu. Tapi siangnya Kang Dasrip datang dengan wajah sendu. “Radionya dicopet di pasar, Nak....!” ujarnya. Daroji menangis.


a. Nilai positiv: Kita bisa belajar bagaimana cara hidup hemat dan tidak boros
b. Nilai Negativnya: Terlalu perhitungan terhadap iang dan terlalu pelit akan pengeluaran.sehingga banyak warga yg mengejeknya dan tidak suka pada kang darsip
c. Nilai yg dapat diteladani: Janganlah kita terlalu perhitungan akan pengeluaran.jadi lah orang yang hemat tetapi tidak terlalu pelit terhadap pengeluaran

11. 5. Cangkriman Blenderan ing PacelathonBedane Bathok Karo ButhakErvin : Apa bedane bathok karo buthak ?Erik : Bathok kuwi kulit klapa, yen buthak ora ana rambuteErvin Ora ngono kuwi, kok!Erik : Bathok kuwi saka tanduran, yen buthak rak manungsaErvin Suaaalaaahhh!!Erik Njur benere piye, hayo imErvin Yen bathok dithuthuk muni thok-thok. Yen bathuk dithuthuk muni misuh misuh. Kowe malah diwales dithuthuki !!! Erik: Bathukmu kuwi...tolong jawab nanti mlm di kumpulkan​


Penjelasan:

soal apaan nih kok g ada jawabannya sih

ih zebel deh kasih poin 20 dulu baru ak kasih jawabannya


12. barang siapa dimuka umum menyatakan perasaan permisuhan kebencian atau penghinaan terhadap pemerintah indonesia diancam dengan oidana palaing lama tujuh tahun prnjara dan denda empat ribu lima ratus rupiah apa saja yang menjadi syarat dalam merangkai disjungsi inklusif tersebut brainly


Jawaban:

syaratnya siapa yg menghina akan di denda dan masuk penjara

Penjelasan:

semoga bermanfaat


13. Mana ad yg mo nembak gua, cewk gualak+suka misuh²+bucin ma mtk dan game ") 1. 456 ÷ 2 = Permutasi kata dr: 1. Sorry 2. Im 3. Anti 4. Romantic ")


Jawaban :

Sorry : 5!

Unsur Ganda : 2!

P = n! / r!

P = 5! / 2!

P = (5 x 4 x 3 x 2 x 1) / (2 x 1)

P = 5 x 4 x 3

P = 20 x 3

P = 60 Susunan

Im : 2!

Unsur Ganda : (-)

P = n!

P = 2!

P = 2 x 1

P = 2 Susunan

Anti : 4!

Unsur Ganda : (-)

P = n!

P = 4!

P = 4 x 3 x 2 x 1

P = 12 x 2

P = 24 Susunan

Romantic : 8!

Unsur Ganda : (-)

P = n!

P = 8!

P = 8 x 7 x 6 x 5 x 4 x 3 x 2 x 1

P = 56 x 30 x 12 x 2

P = 1.680 x 24

P = 40.320 Susunan

________________________________

Pelajari Lebih Lanjut :https://brainly.co.idtugas/28912185https://brainly.co.id/tugas/4993304https://brainly.co.idtugas/12420077

________________________________

Detail Jawaban :

Mata Pelajaran : MatematikaKelas : 12Materi : Pencacahan KataBab : 7Kode Soal : 2Kata Kunci : Mutasi , Sorry,Im,Anti,Romantic.Kode Kategorisasi : 12.2.7

________________________________

ʙʀᴀɪɴʟʏ

#SemogaLuDapetPacar

1.456 ÷ 2 = 228

Permutasi :

Sorry :

5! = (5×4×3×2×1) = 120 Susunan Kata

120 / 2 = 60 Susunan Kata

Im :

2! = (2×1) = 2 Susunan Kata

Anti :

4! = (4×3×2×1) = 24 Susunan Kata

Romantis :

8! = (8×7×6×5×4×3×2×1) = 40.320 susunan kata

Pelajari Lebih Lanjut :

https://brainly.co.id/tugas/28912185

https://brainly.co.id/tugas/4993304

https://brainly.co.id/tugas/12420077

DETAIL :

Mapel : Matematika

Kelas : 12

Materi : Pecahan Kata

Bab : 7

Kode Soal : 2

Kata Kunci : Mutasi,Sorry,im,anti,romantis.


14. CARI UNSUR INTRINSIK NYA! KANG DASRIP Kang Dasrip kecewa dan agak bingung. Anaknya, Daroji yang belum sembuh karena dikhitan kemarin, kini sudah mulai menagih. Sebelum hajat khitanan ini, ia memang berjanji kepada anaknya akan membelikannya radio merek Philip seperti kepunyaan Wak Haji Kholik. Tapi mana bisa, perhitungannya ternyata meleset. Ia bukannya mendapat laba dari hajat ini, malah rugi. Undangan-undangan itu ternyata banyak yang kurang ajar. Cobalah pikir. Perhitungan Kang Dasrip sebenarnya sudah dibilang matang. Ia keluarkan biaya sedikit mungkin untuk hajatan khitanan anaknya ini. Ia tidak bikin tarup di depan rumahnya karena akan menghabiskan banyak batang bambu dan sesek, melainkan cukup membuka gedeg bagian depan rumahnya. Dengan demikian, beranda dan ruang depan rumahnya menjadi tersambung dan bisa dijadikan tempat upacara khitanan. Ia tidak pakai acara macem-macem. Cukup panggil calak, tukang khitan, dengan bayaran dua ribu upiah. Kemudian tak usah nanggap wayang atau ketoprak, ludruk, lagu-lagu dangdut atau kasidahan, atau apa saja asal ada kasetnya. Semua biayannya cukup tiga ribu rupiah, untuk waktu sehari semalam penuh. Biaya yang tidak bisa dielakkan banyaknya ialah untuk suguhan, makan minum dan jajan-jajan serta rokok. Yang diundang tak usah banyakbanyak. Cukup kerabat-kerabat terdekat, tetapi tertama orang-orang yang dulu pernah mengundangnya berhajat. Kang Dasrip punya catatan berapa banyak ia memberi beras atau uang ketika ia pergi ke kondangan. Ia yakin pasti memperoleh jumlah yang sama bahkan bisa lebih banyak. Tetapi ternyata mereka banyak yang kurang ajar. Yang dulu ia buwuhi Rp 200. Sekarang cuma ngasih Rp 100. Bahkan ada yang lebih parah lagi, datang tanpa membawa apa-apa. Kang Dasrip misuh-misuh. Ia rugi ada kira-kira lima belas ribu. Gagallah ia membelikan radio buat anaknya. Sedang si Daroji sudah merengek-rengek. “Sudahlah, Kang. Tak usah bingung. Kita nunggu sewaan tebu sawah kita saja untuk beli radio itu, “ kata istri Kang Dasrip. “Kau kira berapa sewan untuk sawah kita?” Kang Dasrip malah kelihatan semakin berang. Mereka seenaknya sendiri saja memberi harga sewa kita untuk ditanami tebu. Ngomongnya saja tebu rakyat! Tapi nyatanya malah maksa-maksa kita dan tebunya juga punya pabrik! Punya pemerintah!” Istrinya tidak berani membantah. Tapi Kang Dasrip sendiri toh hanya bisa bingung. “Biarlah aku nanti yang ngomongi Daroji,” kata istrinya lagi. “Ngomongi apa! Dia anak kecil!” “Ya disuruh sabar.” Kang Dasrip tertawa kecut. “Sabar sampai kapan?” “Kita kan bisa usaha.” “Usaha apa!” “Soal sewa tebu itu misalnya. Kau kan bisa minta Pak Lurah untuk menaikkan harga sewanya.” Tertawa Kang Dasrip mengeras. “Kau kira lurah kita itu pahlawan, ya! Dia itu takut sama atasannya. Atasannya itu ada main sama yang ngurus tebu itu. Dan lagi lurah kita pasti juga dapat apa-apa. Dia sudah punya sawah berhektar-hektar, pajak-pajak dari kita tak tahu larinya ke mana, uang pembangunan desa sedikit sekali kita lihat hasilnya, tapi belum pernah dia merasa puas, dia masih merasa kurang kaya ... ! “Jadi bagaimana?” istrinya nampak sedih. “Ya! Bagaimana! Memang bagaimana?” jawab Kang Dasrip. Mereka kemudian tak berkata-kata lagi. Tapi kemudian ternyata Kang Dasrip punya rencana diam-diam. Ia mengambil sisa-sisa surat undangan, kertas cetakan yang dibelinya di toko dan tinggal mengisi nama yang diundang. Di bagian belakangnya yang kosong ia pergunakan untuk menulis surat. Ternyata ditujukan kepada para undangan yang kurang ajar itu. “Saya dulu mbuwuhi saudara Rp 200, kok sekarang Saudara hanya ngasih Rp100, tulisnya ................ Ketika surat itu selesai diantarnya, ributlah orang desa. Ada yag tertawa, ada yang memaki-maki. Yang jelas surat itu dengan cepat menjadi bahan gunjingan. Bahkan ternyata ada juga yang dikirim ke undangan dari desa sebelah. Maka makin keraslah tanggapan orang desa. “Memalukan desa kita!” kecam mereka. Dan akhirnya Kang Dasrip tidak menikmati hasil apa-apa dari tindakan kebingungannya itu, kecuali nama yang memalukan. Bahkan, lebih dari itu, di tengah malam, ia gelisah karena genting rumahnya ada yang melempari berkali-kali. Kang Dasrip naik pitam. Ia keluar rumah dan berlari hendak mengejar pelaku-pelakunya. Tapi tentu saja ia sia-sia. Malam amat pekat dan lingkungan begitu rimbun untuk ditembus. Akhirnya ia masuk kembali dan terengah-engah di kursi. Istrinya ketakutan. Tapi Kang Dasrip berusaha meredakannya. “Mereka itu undangan-undangan yang kurang ajar itu!” katanya. Paginya Kang Dasrip berpamitan kepada Daroji akan ke kota untuk beli radio hingga bersukacitalah anak itu. Tapi siangnya Kang Dasrip datang dengan wajah sendu. “Radionya dicopet di pasar, Nak....!” ujarnya. Daroji menangis.


tema :kehidupan
latar: rumah, malam hari
alur : maju
penokohan: Kang Dasrip : pelit, perhitungan
Daroji: sabar
Istri Dasrip: sabar
sudut pandang: orang ketiga
amanat: jangan jadi orang yang pelit dan perhitungan, karena sifat pelit tidak akan membuat seseorang beruntung. sebagai manusia harusnya kita ikhlas dan sabar dalam menghadapi kesusahan

15. siapa yang bermisuhan sesama manusia lebih dari tiga hari, maka Allah swt akan... a. menyayanginyab. memarahinyac. murka kepadanyad. melihat kepada nyacara menyayangi binatang adalah... a. menyembelih dengan parangb. menyembelih dengan pisauc. menyembelih dengan sesuatu yang tajamd. menyembelih dengan cara memukul​


C. murka kepadanya

Penjelasan :

Didalam Islam dijelaskan bahwa kita harus menjaga tali silaturahmi dan persaudaraan. Apabila seorang manusia dengan manusia lain saling bermusuhan, maka jelaslah mereka telah memutuskan tali persaudaraan dan silaturahmi didalamnya.

Oleh karena itu, segeralah bermaaf-maafan agar masalah tidak berlangsung lama dan tidak memupuk dosa. Kita diajarkan untuk saling menghargai, membantu, bersahabat, dan sikap-sikap lain yang baik terhadap sesama makhluk Allah. Apalagi terhadap manusia, Allah akan murka kepadanya.

--------------------

C. menyembelih dengan sesuatu yang tajam

Penjelasan :

Apabila menyembelih hewan ,hendaklah menyembelih dengan baik. Diantaranya menyembelih dengan menggunakan pisau/benda lain yang tajam, agar tidak menyakiti hewan tersebut dikarenakan memperlambat kematian.

Selain menyembelih hewan dengan benda yang tajam, adapula hal lain yang harus diperhatikan, seperti menghadapkan hewan ke arah kiblat, membaca basmalah sebelum menyembelih, dll.

_________________

semoga bermanfaat

mohon dihargai dan jangan dihapus ya>

bantu jadikan jawaban tercerdas juga, terimakasih^^


16. 1. najan Suwe Ora tau ketemu ora apa-apa yang penting pada..a.bagas waras b. guyup rukunc. padha selametd. bibit Kawit2. Jarot kuwi Yen nesu mesti mara tanganmara tangan tegesea. seneng milarab. seneng nesu c. seneng misuhd. seneng malang kerik3. warung Mak enti saben Dina bakul randha royal, dhawet serabi, lan jajan liyane.sing kelebu Tembung camboran yaikua. Mak kentib. Randha royalc. sabend. jajan liyane4. senajan Urip pak Daman.... nanging deweke tansah seneng.tembung saroja sing bener kanggo nggenepi ukara iki yaiku..a. kasingkranganb. papa cintrakac. Bagas warasd. ayem tentrem5. saben Dina bocah nglumahake tangan wae, Mbok gelem rerewang wong tuwa.tembung nglumahake tangan tegesea. tansah jalukb. tansah turu waec. lumuh nyambut gawed. tansah dolan wae​


Jawaban:

1.A

2.A

3.B

4.D

5.C

Penjelasan:

semoga membantu, maaf klo salah


17. Bakti ing wong tuwo. Iki syair kanggo bocah lanang wadon. Nebehake tingkah laku ingkang awon. Serto nerangake budi kang prayogo. Kanggo dalan podo mlebu ing suwargo. Bucah iku wiwit umur pitung tahunKudu ajar toto keben ora getun. Kudu tresna reng ibune kang ngrumati. Kawit cilik marang bapa kang gemathi. Ibu bapak rewangono lamun repot. Aja kaya wong gemagus ingkang wangkot. Lamun ibu bapak prentah inggal tandang. Ojo bantah ojo sengul ojo mampang. Andhap asor ing wong tuwo najan liyo. Tetepana aja kaya raja kaya. Gunem alus alon lirih ingkang terang. Aja kesar aja misuh kaya bujang. Yen wong tuwa lenggah isor siro aja. Pisan lungguh duwur kaya ja majuja. Yen wong tuw sare aja geger guyon. Lamun siro nuju maca kudu alon. Lamun siro liwat ana ing ngarepe. Kudu nyuwun amit serta depe depe. Lamun ibu bapak ndiko becik meneng.Oja melu padu ugo gereneng. Bisri mustofa. 1.Apa irah irahane geguritan ing dhuwur?​


Jawaban: dikuduskan pada orang tua

Penjelasan:

pertamyaanya nama puisi dikuduskan pada orang tua adalah nama puisinnya

Jawaban:

berbakti marang Wong tuo


18. ijinkan gua misuh².")MTK1. 34² =2. 34 ÷ 2 =​


Jawaban:

Penjelasan dengan langkah-langkah:

semoga BERMANFAAT kk

1. 34 × 34 = 1.156

2. 34 ÷ 2 = 17

maaf kalo salah

JANGAN LUPA JADIKAN JAWABAN INI JADI YG TERBAIK!!


19. Bocah telu lagi gawe kurungan manuk nang mburi omah ketekan Kang Narto.Tono : Kang, ngapa sampeyan nganggo topeng ?Kang Narto : o walah, Ton. Iki dudu topeng. Iki jenenge masker.BadriLha njur sampeyan nganggo ngono kuwi rep nggo ben ngapa?NartoNgeneh cah, masker iki dienggo kanggo melindungi utawa nyegah virusmlebu liwat irung.Tono: Oo, ngono ta.Kang Narto : Saiki lagi akeh virus corona sing nyebar maring ndi bae. Malah kabeNegara uwis kecipratan virus iki.Bono : Lha nek kena virus obate piye?Kang Narto : Virus Corona iki cepet banget nyebare. Saiki durung ana obate. Mulawong sing kena virus Corona kudu di isolasi utawa karantina. Tujuwaneya kuwi ben ora nulari wong liya sing esih sehat.TonoNjur kanggo ngatasi virus mau carane priwe, Kang?Kang narto Sepisan kudu ganggo masker, kowe kudu disiplin misuhi tanganenganggo sabun, banjur aja seneng lelungaan.Tono : Apa tandane nek wis kena virus corona, Kang?Kang Narto : Kaya kena flu, demam. Njajal bathukmu tak demek.Kang Narto njur ndemek bathuke Tono.Tono : Piye Kang?Kang Narto : lya, panas banget, Ton. Aja-aja kowe ....Tono: Duh.......!!24. Topik pacelathon ing ndhuwur yaiku ....A. topengC. kena coronaB. virus coronaD. disiplin25. Paraga ing nduwur sing duwe watak pinter yaiku ....A. TonoC. BadriD. BonoB. Kang Narto26. Pacelathon ing ndhuwur migunakake basaA. ngoko alusC. ngoko luguB. krama madyaD. krama inggil27. Pacelathon ing ndhuwur kedadeyan ana ing ....A. nang dhapurB. ngarep omahC.nang mburi sekolahanD. mburi omah​


Jawaban:

24.a

25.c

26.b

27.b

maaf kalau salah

Jawaban:

24. B

25. B

27. D

Penjelasan:

Smoga membantu


20. Kancamu sing siji iku pancen … senengane misuh lan nyatur liyane.​


Kancamu sing siji iku pancen ngeyel senengane misuh lan nyatur liyane.


21. TOLONG DONG BUAT BESOK NIH TOLONG CERITAIN ULANG CERPEN DIBAWAH PAKE BAHASAMU SENDIRI KANG DASRIP (Emha Ainun Nadjib) Kang Dasrip kecewa dan agak bingung. Anaknya, Daroji yang belum sembuh karena dikhitan kemarin, kini sudah mulai menagih. Sebelum hajat khitanan ini, ia memang berjanji kepada anaknya akan membelikannya radio merek Philip seperti kepunyaan Wak Haji Kholik. Tapi mana bisa, perhitungannya ternyata meleset. Ia bukannya mendapat laba dari hajat ini, malah rugi. Undangan-undangan itu ternyata banyak yang kurang ajar. Cobalah pikir. Perhitungan Kang Dasrip sebenarnya sudah dibilang matang. Ia keluarkan biaya sedikit mungkin untuk hajatan khitanan anaknya ini. Ia tidak bikin tarup di depan rumahnya karena akan menghabiskan banyak batang bambu dan sesek, melainkan cukup membuka gedeg bagian depan rumahnya. Dengan demikian, beranda dan ruang depan rumahnya menjadi tersambung dan bisa dijadikan tempat upacara khitanan. Ia tidak pakai acara macem-macem. Cukup panggil calak, tukang khitan, dengan bayaran dua ribu upiah. Kemudian tak usah nanggap wayang atau ketoprak, ludruk, lagu-lagu dangdut atau kasidahan, atau apa saja asal ada kasetnya. Semua biayannya cukup tiga ribu rupiah, untuk waktu sehari semalam penuh. Biaya yang tidak bisa dielakkan banyaknya ialah untuk suguhan, makan minum dan jajan-jajan serta rokok. Yang diundang tak usah banyakbanyak. Cukup kerabat-kerabat terdekat, tetapi tertama orang-orang yang dulu pernah mengundangnya berhajat. Kang Dasrip punya catatan berapa banyak ia memberi beras atau uang ketika ia pergi ke kondangan. Ia yakin pasti memperoleh jumlah yang sama bahkan bisa lebih banyak. Tetapi ternyata mereka banyak yang kurang ajar. Yang dulu ia buwuhi Rp 200. Sekarang cuma ngasih Rp 100. Bahkan ada yang lebih parah lagi, datang tanpa membawa apa-apa. Kang Dasrip misuh-misuh. Ia rugi ada kira-kira lima belas ribu. Gagallah ia membelikan radio buat anaknya. Sedang si Daroji sudah merengek-rengek. “Sudahlah, Kang. Tak usah bingung. Kita nunggu sewaan tebu sawah kita saja untuk beli radio itu, “ kata istri Kang Dasrip. “Kau kira berapa sewan untuk sawah kita?” Kang Dasrip malah kelihatan semakin berang. Mereka seenaknya sendiri saja memberi harga sewa kita untuk ditanami tebu. Ngomongnya saja tebu rakyat! Tapi nyatanya malah maksa-maksa kita dan tebunya juga punya pabrik! Punya pemerintah!” Istrinya tidak berani membantah. Tapi Kang Dasrip sendiri toh hanya bisa bingung. “Biarlah aku nanti yang ngomongi Daroji,” kata istrinya lagi. “Ngomongi apa! Dia anak kecil!” “Ya disuruh sabar.” Kang Dasrip tertawa kecut. “Sabar sampai kapan?” “Kita kan bisa usaha.” “Usaha apa!” “Soal sewa tebu itu misalnya. Kau kan bisa minta Pak Lurah untuk menaikkan harga sewanya.” Tertawa Kang Dasrip mengeras. “Kau kira lurah kita itu pahlawan, ya! Dia itu takut sama atasannya. Atasannya itu ada main sama yang ngurus tebu itu. Dan lagi lurah kita pasti juga dapat apa-apa. Dia sudah punya sawah berhektar-hektar, pajak-pajak dari kita tak tahu larinya ke mana, uang pembangunan desa sedikit sekali kita lihat hasilnya, tapi belum pernah dia merasa puas, dia masih merasa kurang kaya ... ! “Jadi bagaimana?” istrinya nampak sedih. “Ya! Bagaimana! Memang bagaimana?” jawab Kang Dasrip. Mereka kemudian tak berkata-kata lagi. Tapi kemudian ternyata Kang Dasrip punya rencana diam-diam. Ia mengambil sisa-sisa surat undangan, kertas cetakan yang dibelinya di toko dan tinggal mengisi nama yang diundang. Di bagian belakangnya yang kosong ia pergunakan untuk menulis surat. Ternyata ditujukan kepada para undangan yang kurang ajar itu. “Saya dulu mbuwuhi saudara Rp 200, kok sekarang Saudara hanya ngasih Rp100, tulisnya ................ Ketika surat itu selesai diantarnya, ributlah orang desa. Ada yag tertawa, ada yang memaki-maki. Yang jelas surat itu dengan cepat menjadi bahan gunjingan. Bahkan ternyata ada juga yang dikirim ke undangan dari desa sebelah. Maka makin keraslah tanggapan orang desa. “Memalukan desa kita!” kecam mereka. Dan akhirnya Kang Dasrip tidak menikmati hasil apa-apa dari tindakan kebingungannya itu, kecuali nama yang memalukan. Bahkan, lebih dari itu, di tengah malam, ia gelisah karena genting rumahnya ada yang melempari berkali-kali. Kang Dasrip naik pitam. Ia keluar rumah dan berlari hendak mengejar pelaku-pelakunya. Tapi tentu saja ia sia-sia. Malam amat pekat dan lingkungan begitu rimbun untuk ditembus. Akhirnya ia masuk kembali dan terengah-engah di kursi. Istrinya ketakutan. Tapi Kang Dasrip berusaha meredakannya. “Mereka itu undangan-undangan yang kurang ajar itu!” katanya. Paginya Kang Dasrip berpamitan kepada Daroji akan ke kota untuk beli radio hingga bersukacitalah anak itu. Tapi siangnya Kang Dasrip datang dengan wajah sendu. “Radionya dicopet di pasar, Nak....!” ujarnya. Daroji menangis.


kisah tentang anak yg dijanjikan ayahnya dibelikan radio setelah di khitan. tetapi, si ayah tdk membelikannya karna sehabis acara khitanan tsb ayahnya malah rugi. dan akhirnya si ayah mengirim surat pd tamu2nya dan berkata bahwa dia dlu mengahdiri acara mereka dgn memberi amplop rp. 200 tp mengapa mreka hanya memberi rp.100 bahkan ada yg tdk memberi amplop.
dan karna itu keluarga anak itu menjadi caci makian org se kampung. dan ketika ayahnya membeli radio di psar, ternyata radionya di copet org

22. 5. Cangkriman Blenderan ing Pacelathon Bedane Bathok Karo Buthak Ervin : Apa bedane bathok karo buthak ? Erik : Bathok kuwi kulit klapa, yen buthak ora ana rambute. Ervin : Ora ngono kuwi, kok ! Erik : Bathok kuwi saka tanduran, yen buthak rak manungsa Ervin : Suaaalaaahhh !!! Erik: Njur benere piye, hayo !!!! Ervin : Yen bathok dithuthuk muni thok-thok. Yen bathuk dithuthuk muni misuh - misuh. Kowe malah diwales dithuthuki Erik: bathukmu Kuwi ....isine cangkriman:......................................................................​


Jawaban: kayak e iki

"Yen bathok dithuthuk muni thok-thok. Yen bathuk dithuthuk muni misuh - misuh. Kowe malah diwales dithuthuki"

Penjelasan:


23. jadikan sinopsis cerpen ini minimal 3 paragraf KANG DASRIP (Emha Ainun Nadjib) Kang Dasrip kecewa dan agak bingung. Anaknya, Daroji yang belum sembuh karena dikhitan kemarin, kini sudah mulai menagih. Sebelum hajat khitanan ini, ia memang berjanji kepada anaknya akan membelikannya radio merek Philip seperti kepunyaan Wak Haji Kholik. Tapi mana bisa, perhitungannya ternyata meleset. Ia bukannya mendapat laba dari hajat ini, malah rugi. Undangan-undangan itu ternyata banyak yang kurang ajar. Cobalah pikir. Perhitungan Kang Dasrip sebenarnya sudah dibilang matang. Ia keluarkan biaya sedikit mungkin untuk hajatan khitanan anaknya ini. Ia tidak bikin tarup di depan rumahnya karena akan menghabiskan banyak batang bambu dan sesek, melainkan cukup membuka gedeg bagian depan rumahnya. Dengan demikian, beranda dan ruang depan rumahnya menjadi tersambung dan bisa dijadikan tempat upacara khitanan. Ia tidak pakai acara macem-macem. Cukup panggil calak, tukang khitan, dengan bayaran dua ribu upiah. Kemudian tak usah nanggap wayang atau ketoprak, ludruk, lagu-lagu dangdut atau kasidahan, atau apa saja asal ada kasetnya. Semua biayannya cukup tiga ribu rupiah, untuk waktu sehari semalam penuh. Biaya yang tidak bisa dielakkan banyaknya ialah untuk suguhan, makan minum dan jajan-jajan serta rokok. Yang diundang tak usah banyakbanyak. Cukup kerabat-kerabat terdekat, tetapi tertama orang-orang yang dulu pernah mengundangnya berhajat. Kang Dasrip punya catatan berapa banyak ia memberi beras atau uang ketika ia pergi ke kondangan. Ia yakin pasti memperoleh jumlah yang sama bahkan bisa lebih banyak. Tetapi ternyata mereka banyak yang kurang ajar. Yang dulu ia buwuhi Rp 200. Sekarang cuma ngasih Rp 100. Bahkan ada yang lebih parah lagi, datang tanpa membawa apa-apa. Kang Dasrip misuh-misuh. Ia rugi ada kira-kira lima belas ribu. Gagallah ia membelikan radio buat anaknya. Sedang si Daroji sudah merengek-rengek. “Sudahlah, Kang. Tak usah bingung. Kita nunggu sewaan tebu sawah kita saja untuk beli radio itu, “ kata istri Kang Dasrip. “Kau kira berapa sewan untuk sawah kita?” Kang Dasrip malah kelihatan semakin berang. Mereka seenaknya sendiri saja memberi harga sewa kita untuk ditanami tebu. Ngomongnya saja tebu rakyat! Tapi nyatanya malah maksa-maksa kita dan tebunya juga punya pabrik! Punya pemerintah!” Istrinya tidak berani membantah. Tapi Kang Dasrip sendiri toh hanya bisa bingung. “Biarlah aku nanti yang ngomongi Daroji,” kata istrinya lagi. “Ngomongi apa! Dia anak kecil!” “Ya disuruh sabar.” Kang Dasrip tertawa kecut. “Sabar sampai kapan?” “Kita kan bisa usaha.” “Usaha apa!” “Soal sewa tebu itu misalnya. Kau kan bisa minta Pak Lurah untuk menaikkan harga sewanya.” Tertawa Kang Dasrip mengeras. “Kau kira lurah kita itu pahlawan, ya! Dia itu takut sama atasannya. Atasannya itu ada main sama yang ngurus tebu itu. Dan lagi lurah kita pasti juga dapat apa-apa. Dia sudah punya sawah berhektar-hektar, pajak-pajak dari kita tak tahu larinya ke mana, uang pembangunan desa sedikit sekali kita lihat hasilnya, tapi belum pernah dia merasa puas, dia masih merasa kurang kaya ... ! “Jadi bagaimana?” istrinya nampak sedih. “Ya! Bagaimana! Memang bagaimana?” jawab Kang Dasrip. Mereka kemudian tak berkata-kata lagi. Tapi kemudian ternyata Kang Dasrip punya rencana diam-diam. Ia mengambil sisa-sisa surat undangan, kertas cetakan yang dibelinya di toko dan tinggal mengisi nama yang diundang. Di bagian belakangnya yang kosong ia pergunakan untuk menulis surat. Ternyata ditujukan kepada para undangan yang kurang ajar itu. “Saya dulu mbuwuhi saudara Rp 200, kok sekarang Saudara hanya ngasih Rp100, tulisnya ................ Ketika surat itu selesai diantarnya, ributlah orang desa. Ada yag tertawa, ada yang memaki-maki. Yang jelas surat itu dengan cepat menjadi bahan gunjingan. Bahkan ternyata ada juga yang dikirim ke undangan dari desa sebelah. Maka makin keraslah tanggapan orang desa. “Memalukan desa kita!” kecam mereka. Dan akhirnya Kang Dasrip tidak menikmati hasil apa-apa dari tindakan kebingungannya itu, kecuali nama yang memalukan. Bahkan, lebih dari itu, di tengah malam, ia gelisah karena genting rumahnya ada yang melempari berkali-kali. Kang Dasrip naik pitam. Ia keluar rumah dan berlari hendak mengejar pelaku-pelakunya. Tapi tentu saja ia sia-sia. Malam amat pekat dan lingkungan begitu rimbun untuk ditembus. Akhirnya ia masuk kembali dan terengah-engah di kursi. Istrinya ketakutan. Tapi Kang Dasrip berusaha meredakannya. “Mereka itu undangan-undangan yang kurang ajar itu!” katanya. Paginya Kang Dasrip berpamitan kepada Daroji akan ke kota untuk beli radio hingga bersukacitalah anak itu. Tapi siangnya Kang Dasrip datang dengan wajah sendu. “Radionya dicopet di pasar, Nak....!” ujarnya. Daroji menangis.


Kang Dasrip kecewa dan agak bingung. Anaknya, Daroji yang belumsembuh karena dikhitan kemarin, kini sudah mulai menagih.ia memang berjanji kepada anaknya akan membelikannyaradio merek Philip seperti kepunyaan Wak Haji Kholik Tapi mana bisa,perhitungannya ternyata meleset. Ia bukannya mendapat laba dari hajat ini,malah rugi. 
Kang Dasrip misuh-misuh. Ia rugi adakira-kira lima belas ribu. Gagallah ia membelikan radio buat anaknya. Sedangsi Daroji sudah merengek-rengek.kemudian ternyata Kang Dasrip punya rencana diam-diam.
 Iamengambil sisa-sisa surat undangan,Di bagian belakangnya yangkosong ia pergunakan untuk menulis surat. Ternyata ditujukan kepada paraundangan yang kurang ajar itu. “Saya dulu mbuwuhi saudara Rp 200, koksekarang Saudara hanya ngasih Rp100, tulisnya ................akhirnya Kang Dasrip tidak menikmati hasil apa-apa daritindakan kebingungannya itu

24. Wong kang penggaweane nyatur,misuh,ngrasani wong liyane diarani...


wong kuwi diarani tipis lambeneTipis lambene maaf klo slh

Video Terkait

Kategori b_daerah